Fundamental Science Education ( Hakikat MIPA ) oleh Rita Yuli Yanti

Posted in Uncategorized | Leave a comment

hati ku

mungkin aq memang menyayanginya ,,, tpi aq bukan cintanyaa .. sdkit buwat aq kecewa .. tpi aq tetap bersyukur pda tuhan .. karna msih memberi ku kesemptan menatapnya . meskipun tak memilikinya ,,

Posted in Uncategorized | Leave a comment

d’twence

d'twence

keluarga besar ku di SMA

Image | Posted on by | Leave a comment

Dermaga Saksi Cintaku

Hidup penuh cinta membawa dua insan saling memadu tawa. Bagai bulan yang setia menemani malam itulah ibarat cinta sepasang kekaih antara Rava da Ratna. Rava seorang pemuda tampan berkulit putih, berbadan tinggi, dan telah duduk dibangku SMA, tepatnya kelas XII. Sedangkan Ratna gadis mungil , berkulit sawo matang yang duduk di bangku SMP, yaitu kelas IX.

Awal perkenalan mereka sangatlah mengesankan, karena salah satu teman Ratna memberikan nomer Hp Ratna kepada Rava. Sehingga Ratna marah bukan main kepada temannya yang bernama Andi.

“Andi, kenapa cih kamu beri nomer Hpku ke teman kamu itu? Siapa ya namanya kalau tidak salah namanya Rava”  cetus Ratna dengan juteknya.

“Dia itu minta nomer cewek, kebetulan aku hanya punya nomer kamu, jadi aku kasih aja nomer kamu” dengan santainya Andi menjawab.

“Ah  resek banget cih kamu” sahut Ratna dan langsung pergi meninggalkan Andi.

Setelah beberapa waktu Ratna dan Rava saling mengenal, ternyata mereka menemukan sebuah kecocokan. Semakin hari semakin akrab, walaupun hanya lewat Hp, tapi tiba saatnya mereka saling bertemu. Sebuah pertemuan yang tanpa di sengaja, di sebuah Dermaga. Karena mereka belum pernah bertemu sebelumnya jadi mereka sedikit malu-malu saat berbincang-bincang.

“Adek, sedang apa disini? Tumben main ke Dermaga” tegur Rava dengan senyum manis dibibirnya.

“Emm…… iseng aja kak, habisnya boring dirumah terus dan les untuk UN” jawab Ratna dengan santai.

Setelah lama mereka berbincang-bincang, mereka berniat untuk pulang bersama, dan disebuah persimpangan jalan mereka berpisah.

Beberapa bulan kemudian tiba saatnya siswa SMA meaksanakan UN, dan Rava sangat gelisah. Fikirannya tak mementu. Ketika Rava sedang melamun tiba-tba Hpnya berdering dan membuyarkan lamunannya. Sebuah nama spesial yang ditunggu-tunggu nya “Adek Ratna”. Langsung dengan cepat Rava mengangkat telfon dari Ratna.

“Assalamualaikum,kakak. Sukses ya untuk UN nya” cetus Ratna dari telefon genggamnya.

“Walaikum salam. Makasih ya Dek, kakak seneng Adek telfon kakak, kakak jadi semangat untuk UN besok” sahut Rava.

Setelah beberapa menit mereka berbincang-bincang lewat telefon genggamnya, akhirnya Ratna  memutuskan untuk mengakhiri telefonnya, karena takut mengganggu Rava yang sedang belajar.

“Kakak, udah dulu ya.. takut ganggu belajar . belajar yang rajin. I Love You” dan Ratna langsung menutup telfonnya begitu saja.

“Belum juga dijawab, udah maen tutup aja ne adek” cetus Rava “ I Love You too dek” bisik Rava dengan senyum dibibirnya.

Malam sebelum ujian dilaksanakan gelisah tak menentu menyerang hati Rava. Terfikir kata-kata Ratna dan juga terfikir tentang UNnya.

“Ratna, aku sayang kamu , tapi aku belum berani untuk mengungkapkannya, karena aku takut kamu tolak” kata Rava dalam hati sambil memandangi foto Ratna di Hpnya.

“Tapi aku yakin kamu juga menyayangi ku” bisiknya.

Ujian Nasional tingkat SMA telah selesai dilaksanakan, giliran SMP yang menghadapi Ujian Nasional. Ratna tak bisa tidur, gelisah, SMS dari Rava selalu datang untuk menenangkan hatinya. Tiba-tiba ada suara motor yang datang ke rumahnya. Setelah Ratnamembuka pintu rumahnya, betapa terkejutnya dia karena Rava yang telah berdiri tepat di depannya, dengan membawa setangkai bunga dan boneka beruang fovoritnya.

“Adek, ini  untuk adek, sukses ya buat pertempurannya besok” kata rava sambil menyerahkan bunga dan boneka yang ada di tangannya.

Ratna yang kaget menjadi gemetaran sekaligus deg-degan .

“Maa…. ma…. makasih ya Kakak” jawab Ratna dengan terpatah-patah . Maklum lagi grogi. Hehehehe

“Ayo masuk, jangan berdiri terus di depan pintu” sahut ibu Ratna tiba-tiba dari dalam rumah. Dan Ratna menarik tangan rava.

“Tidak usah buk! Terima kasih “ sahut Rava.

“ Adek belajar aja, kakak mau pulang, takut ganggu”, tambah Rava disertai senyum manis di bibirnya.

Lalu Rava mengendarai motornya dan memutuskan untuk pulang. Bayangan rava selalu hadir dalam fikiran Ratna. Salah satunya adalah senyum maniz Rava. Itu juga yang membuat ratna lebih semangat belajar dan dalam menghadapi UN.

UN telah selesai , Rava ataupun Ratna telah merasa lega dengan pengumuman kelulusan yang mereka terima, dengan hasil memuaskan. Tiba saatnya Rava mengungkapkan isi hatinya selama ini, dan Rava memutuskan untuk mengajak Ratna bertemu di Dermaga, tempat mereka pertama bertemu. Di Dermaga itu Rava mengungkapkan perasaannya ,karena Ratna juga suka tanpa berfikir panjang Ratnapun menerima. Sebab Ratna telah menunggu saat-saat itu sejak lama.

”Adek kakak janji, kakak tidak akan buat adek kecewa dan kakak juga akan setia. Meskipun kakak akan kulyah di Palembang,  kakak tidak akan berpaling”  janji Rava kepada Ratna.

“Adek juga janji, adek bakal setia sama kakak dan nunggu kakak pulang untuk nemuin adek” sahut Ratna meyakinkan.

Beberapa bulan berlalu, Rava meneruskan kulyah nya di Palembang tepatnya di Universitas Sriwijaya. Berbulan-bulan juga Ratna nenanti kepulangan Rava. Empat bulan sekali Rava pulang dan setiap pulang Rava selalu menemui Ratna. Tak lupa Rava mengajak Ratna untuk ke Dermaga tempat mereka pertama bertemu.

Dengan kesetiaan cinta mereka , membawa Rava untuk berani memberikan sebuah cincin kepada Ratna. Sepasang cincin yang bertuliskan nama mereka berdua “RARASTA”, dengan romantisnya Rava memasangkan cicin itu kejari manis Ratna.

“Adek, ini ikatan cinta kita, bukti cinta kakak untuk adek”  kata Rava seraya memandang wajah Ratna dengan penuh bahagia.

“ Kakak, makasih ya, Adek sayang banget sama kakak” sahut Ratna.

Dua tahun mereka menjalin cinta, dua tahun pula Rava dan Ratna hidup penuh setia. Orang tua rava dan Ratna juga telah setuju dengan hubungan mereka, karena orang tua mereka telah saling mengenal.

Jalan itu tak selamanya mulus, kadang penuh duri dan rintangan. Hingga akhirnya, cobaaan itu datang menimpa cinta mereka.dan mereka harus berpisah. Perpisahan yang tidak pernah terlintas di benak Ratna. Rava yang memutuskan ikatan cinta mereka. Dengan sangat terpaksa Ratna menerima keputusan itu.

“Kak, kalau kakak mau kita harus berpisah, Adek trima , Adek ikhlas” kata Ratna dengan menggenggam tangan Rava ketika Rava menemui ratna di Rumah Ratna.

“Dek, Kakak sayang Adek, tapi kita sudah benar-benar tidak bisa untuk bersama” sahut Rava.

Entah apa alasan Rava memutuskan hubungan mereka, tanpa sebab yang jelas.

“apakah punya kekasih lain? Atau orang tua mu tak setuju dengan hubungan kita.?”tanya Ratna dengan deraian airmata.

“Ini semua tidak ada hubungan nya denga orang tuaku” jawab Rava singkat, sambil menghusap air mata Ratna.

“sudah janganlah menangis, aku tak sanggup melihat mu menangis’ cetus Rava seraya memandang Ratna.

“Aku tak kuasa menahan tangisku, aku terlalu mencintaimu” ungkap Ratna.

“Kalau kita memang jodoh, kelak kita akan dipersatukan kembali oleh Tuhan” dengan memeluk Ratna untuuk terakhir kalinya dan membuka cincin yang ada di jari manisnya, setelah itu dia memutuskan untuk pulang.

Malam-malam Ratna selalu dipenuhi air mata. Hari-hari Ratna selalu dipenuhi dengan derita. Setiap malam ratna selalu bangun untuk sholat tahajud, tiada henti Ratna berdo’a agar dia diberi kekuatan dan Allah mengembalikan Rava padanya.

“Ya Allah, ku sangat mencintai Rava, aku juga sangat menyayangi Rava, kembalikan dia padaku ya Allah. Ku tak sanggup hidup tanpa dia” bisik Ratna dalam kesunyian malam dalam do’anya.

Do’a itu selalu terucap dari bibirnya. Setiap malam dalam tahajudnya selalu menangis.

“Ratna, carilah kekasih baru, agar kamu bisa lupa dengan Ravamu itu” cetus ibu Ratna.

“Tidak, aku mencintai Rava Bu” jawab Ratna.

“Terus mau sampai kapan kamu seperti ini Ratna?” tanya Ibu Ratna kepada Ratna.

“Entahlah bu’, lihat apa yang akan terjadi esok “  sahut Ratna dengan cuek.

Setahun berlalu, Ratna hidup dalam penantian untuk Rava. Meskipun Rava tak sendiri, tapi dia tetap setia kepada Rava. Tanpa Ratna tahu ternyata Rava telah putus dengan kekasih barunya.

Suatu hari Ratna rindu akan Dermaga temat dimana dia dan Rava saling mengucap janji. Dia pergi seorang diri ke Dermaga itu. Disana di menjerit sekuat tenaga untuk mengungkapkan isi hatinya. Angin yang berhembus dan ombak yang berdesir menjadi saksi tangisnya saat itu. Meski setahun berpisah, hati Ratna tetap milik Rava.

“Tuhan, mengapa engkau pisahkan aku dengan Rava? Aku lemah tanpa dia, aku tak mampu hidup tanpa dia”jerit Ratna dengan tangisnya.

Kebetulan di Dermaga itu sepi, jadi tidak ada orang yang menertawakannya, karena dianggap orang gila. Hehehehe . Ratna memejamkan matanya dengan merasakan hembusan angin yang menerpanya. Dan tanpa disadari tiba-tiba ada seorang lelaki di belakangnya dan lansung meraih tangannya. Betapa terkejutnya Ratna ternyata laki-laki itu adalah Rava. Lelaki yang dirindunya selama satu tahun kini benar-benar ada di hadapannya dengan senyum dan air mata.

“Ratna, maafkan aku , aku telah melukaimu, aku tak mengetahui jika kamu begitu mencintaiku sampai kamu mununggu aku selama setahun ini” ungkap Rava dengan rasa menyesal.

“jangan kau teteskan air matamu lagi, aku tak ingin melihatmu menangis” tambahnya.

“Kak, Aku sangat mencintai Kamu, sulit bagi Ku untuk melupakan kamu” sahut Ratna.

“Untuk kali ini Aku janji, Aku  tidak akan  lagi buat Kamu kecewa Ratna, Aku sadar, Aku juga sangat mencintai adek” kata Rava.

Dipeluknya Ratna, dihusapnya air mata Ratna dan di ungkapkan betapa dia menyesal karna telah meninggalkan Ratna. Rava dan  Ratna bersatu kembali dalam ikatan cinta. Dermaga menjadi saksi cinta mereka. Pahit manis cinta mampu mereka lewati. Walau dengan deraian air mata dan sempat terpisah. Akhirnya mereka bersatu kembali.

ending cerpen ku

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Dermaga Saksi Cintaku

Posted in Uncategorized | Leave a comment